Konsep Penderitaan
A. Definisi Penderitaan
“Penderitaan” dalam Bahasa Yunani asli berarti “tekanan” menurut “ Webster kamus dunia modern “penderitaan” ialah sesuatu yang menimbulkan sakit atau tekanan.” Secara tak langsung berarti dukacita, sengsara atau sakit hati/penderitaan batin karena penyakit, kehilangan, atau ketidakberuntungan. Menderita menurut KBBI, menanggung sesuatu yg tidak menyenangkan.[1] Artinya adalah bahwa setiap penderitaan pasti akan di alami setiap orang atau siapapun itu, bahkan Kristus Yesus Menderita karena Dosa yang telah dilakukan oleh manusia, sehingga ia rela mati untuk menebus dosa manusia. salib Kristus adalah tanda plus yang menjamin pengampunan dan hidup bagi manusia. salib adalah tangga sempurna, tinggi dan satu-satunya untuk mencapai pintu kerajaan sorga. Orang kristen yang sejati yang dapat merasakan pengalaman keselamatan yang hangat melalui salib.[2]
B. Siapa saja yang menderita
di dalam kehidupan di dunia saat ini, banyak hal harus kita ketahui bahwa akan ada penderitaan yang akan di alami oleh setiap orang. Jadi untuk mengerti bahwa siapa saja yang harus menderita. Ada beberapa hal yang kita ketahui adalah:
1. Orang Kristen atau orang benar
Mengapa orang benar menderita? mengapa tidak setiap orang percaya disembuhkan segera? Sebagian dari beberapa orang Kristen belum mengerti akan hal dan mengapa itu terjadi dan menimpa orang-orang kudus. Pada dasarnya adalah bahwa Allah itu kasih adanya, Ia mengizinkan penderitaan itu terjadi bagi orang percaya hanya menciptakan bagi-Nya suatu “Kemuliaan kekal.” Tidak seorang dapat hidup benar dan kudus tanpa kesengsaraan, karena kesengsaraan yang diterima merupakan jalan kepada kemuliaan. Yohanes 16:33 ”Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."[3] Artinya adalah bahwa menajdi orang percaya tentu banyak hal yang akan kita hadapi baik itu dari segi penderitaan bahakan berujuang kepada kematian secara jasmani. Maka janganlah kiranya kita merasa takut dan berkecil hati karena berada di dalam penderitaan. Tetapi kiranya dengan situasi penderitaan yang kamu alami itu menandai bahwa hubunganmu dengan Allah semakin dekat. Dimana bahwa Allah sendiri sudah berjanji sepeeti ayat tadi, yang sudah di jelaskan pada ayat 33. [4]
2. Yesus sebagai hamba yang menderita
Allah Anak akan datang ke dunia ini menjadi manusia dan akan disalibkan..dimana Tuhan Yesus yang setara dengan Allah Bapa akan menjadi hamba yang menderita. Kedatangan-Nya yang pertama tidak akan menjadi hamba yang mulia, tetapi sebagai hamba yang menderita, ditolak, dihina, dibenci, dan tidak dihargai. Sehingga banyak orang tidak menerima Dia sebagai Mesias, justru sebaliknya Ia menjadi batu sandungan. Yohanes 20:25”Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."Yohanes 19:33-36”tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: "Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan."[5] Penderitaan Kristus Yesus untuk orang pilihan-Nya. Karena keamtian-Nya memilih nilai yang tak terhingga, maka kematian tersebut cukup untuk semua orang pilihan tanpa memandang jumlahnya.[6] Penderitaan memiliki kekuatan untuk mematahkan pengaruh dosa dalam kehidupan manusia.. artinya bahwa Allah ingin kita mengalami Penderitaan supaya kuasa dosa dapat dipatahkan dalam hidup manusia[7]
Alasan Yesus menjadi
hamba yang menderita;
a.
Memberi umat
manusia hidup baru
Prinsip
tentang kehidupan bahwa seorang rela berkorban agar orang lain bisa mengalami
hidup. Yesus berkata dalam Yohanes 12:24, Sesungguhnya
jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji
saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
Yesus berkata tentang ayat ini sekitar sepuluh hari sebelum penyaliban. Dia mau menunjukkan bahwa ia harus mati di kayu salib, dan melalui kematian-Nya banyak orang memiliki hidup yang kekal. Tanpa pengorbanan tidak ada kehidupan baru. Jadi sebagai orang percaya tentunya menjadi suatu motivasi bahwa kematian Kristus menjadi sumber Keselamatan bagi orang-orang percaya yang telah dipilih oleh Allah.
b. Memberi teladan bagi para pengikut-Nya
Memikul salib berarti berkorban untuk memberi hidup kepada orang lain. Setiap orang yang tidak siap berkorban dan memikul salib-Nya tidak dapat menjadi murid Yesus. Memikul salib itu berarti mengasihi Allah dan bergantung hanya kepada-Nya. Yesus mengorbankan diri-Nya itu menunjukkan kepada mereka bahwa mereka harus mengorbankan hidup mereka demi Yesus dan orang lain,(Yoh 21:18-19).[8]
C. Mengapa Penderitaan itu terjadi
Penderitaan itu terjadi sebagai satu
kesaksian kita sebagai orang yang dibenarkan maka di dalam Kristus Yesus yang
telah rela mengorbankan Nyawa-Nya kepada umat-Nya yang berdosa. Kalau orang
percaya menghadapi penderitaan dengan sukacita dan stabil inilah yang akan
menjadi kesaksian bagi seluruh dunia yang sangat berharga. Penebusan Kristus
Yesus telah ditetapkan untuk mempengaruhi Allah dengan orang berdosa; keadaan
dan kondisi yang dapat memungkina kita memperoleh keselamatan yang secara
Cuma-Cuma. Yohanes 11:1-45.dimana Allah menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya
terhadap orang lain. Hal ini terjadi oleh karena kasih-Nya yang begitu besar.
Dimana kita telah diperdamaikan dengan mereka yang semula adalah objek
murka-Nya yang adil.[9]
Inilah alasan mengapa penderitaan itu terjadi yaitu untuk menanggung murka
Allah yang penuh dengan kasihnya. Andaikata Allah tidak adil, tidak ada
tuntutan terhadap anak-Nya untuk menderita dan mati. Andaikata Allah tidak
kasih, tidak akan ada kerelaan untuk mengaruniakan anak-Nya untuk menderita dan
mati. Tetapi Allah itu adil dan kasih. Oleh karena itu, kasih-Nya yang rela
untuk memenuhi Tuntutan keadilan-Nya. 1 Yohanes 4:10. “Inilah kasih itu: Bukan
kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan
yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita..”[10] dengan demikian penderitaan itu terjadi
adalah suatu alat untuk mempersiapkan kita ke level yang lebih tinggi dan
membawa kita lebih dekat pada Tuhan. Karena rancangan itu mendatangkan damai
sejaterah. Meskipun kadang kita belum melihat rencana-Nya.[11]
[1]KBBI”kamus
Besar Bahasa Indonesia
[2]
Woo Young Kim, YESUSlah Jawaban (cet-1 jakarta Gunung Mulia,2005) hal 24
[3]
Paul E. Billheimer, Kemuliaan di balik
Penderitaan (YAKIN Jl. Ganteng Besar 85 Surabaya)
[4]
Theodore H. Epp, mengapa orang-orang
Kristen menderita ( The Good New Broadcasting Association, Inc.” Lincoln,
Nebraska, USA) hal 8
[5]Paul
Enn, THE MOODY HANDBOOK OF THEOLOGI 1
(LITERATUR SAAT Jl. Anggrek Merpati 12 Malang) hal269
[6]Milliard
J. Erickson, TEOLOGI KRISTEN VOL 2
(PENERBIT GANDUM MAS Kotak Pos 46- Malang) hal 510
[7]Dag
Heward-Mills, Kehilangan Penderitaan
Pengorbanan & Kematian (diterbitkan Parchment House 2013)
[8]
Dr. Thomas Hwang, KRISTOLOGI (PENERBIT:
Sarah Hae-ok Cho 2011) hal326-339
[9]Louis
Berkhof, TEOLOGI SISTEMATIKA Doktrin
Kristus (Penerbit Momentum Surabaya cetakan 2017) hal 205
[10]
John Piper, PENDERITAAN KRISTUS YESUS ( PENERBIT MOMENTUM Surabaya cetakan 4
2013)hal10
[11] https://www.renunganharian.net/2018/110-november/2733-mengapa-penderitaan-terjadi.html
Komentar
Posting Komentar