Langsung ke konten utama

Allah Maha hadir

 

 

A.   Definisi

1.     Allah

Allah adalah pribadi Ilahi yang transenden dan juga imanen, yang memiliki akal, perasaan dan kehendak, tak berawal tak berakhir, dan tak berubah, roh yang sempurna, pencipta dan pengatur alam semesta, pemelihara, sumber hidup, dan tujuan segala sesuatu. Maka dapat disimpulkan bahwa Allah yang berkepribadian berada di luar semesta alam, ada dengan sendirinya, bermoral dan menyatakan diri itu benar-benar ada. Ia tidak dapat dipahami disamping itu juga ia dapat dikenal[1]

 

2.      Mahahadir

Mahahadir (omnipresence). Kata depan Maha(omni) berasal dari kata Latin omnis, yang berarti “semua “. Jadi mahahadir berarti Allah hadir di setiap tempat. Mazmur 139:7-12 menjelaskan kemahahadiran Allah. Dari langit yang paling tinggi sampai kedalaman bumi dan laut, Allah hadir di setiap tempat. Tidak ada yang terlepas dari  kehadiran Allah. Dalam definisi ini tercatat bahwa Allah hadir di setiap tempat dalam totalitas pribadi-Nya. Kemahadiran Allah suatu penghiburan bagi orang percaya yang menyadari bahwa tidak ada malapetaka yang dapat jatuh atasnya di mana Allah tidak hadir bersama dia; hal itu juga suatu peringatan bagi orang yang tidak taat, bahwa ia tidak luput dari kehadiran Allah.[2]

Mahahadir adalah cara Allah untuk hadir di setiap waktu dan tempat. Walaupun Allah hadir di setiap waktu dan tempat, Allah tidak terbatas oleh ruang atau waktu. Allah ada saat ini dan di mana saja, ( ini berlawanan dengan Panteisme,yang menyatakan Allah berada dalam segala sesuatu). Lebih spesifik lagi, mahahadir dapat dijabarkan sebagai “Allah, dalam totalitas esensi-Nya, tanpa pembauran dan pengembangan, penambahan atau pemisahan, menembus dan memenuhi alam semesta dalam semua bagiannya.” Tidak ada bagian terkecil dari sesuatu yang luput dari kehadiran Allah, dan tidak ada galaksi yang terlalu luas yang tidak terjangkau oleh Allah. Namun jika kita menghilangkan salah satu ciptaan, Allah akan mengetahui hal itu, karena Ia mengetahui segala kemungkinan, apakah Itu sudah terjadi atau belum. Inilah salah satu sifat Allah secara Nonmoral yang merupakan sifat-sifat Allah yang tidak melibatkan hal-hal moral, sifat tersebut ialah mahahadir. Allah secara khusus hadir bagi mereka yang menyerukan nama-Nya, yang berdoa bagi orang lain, yang mencintai Allah, yang memohon dan berdoa dengan sungguh-sungguh memohon pengampunan, dan secara ajaib hadir di setiap gereja di atas bumi, termasuk memastikan Iblis tidak menang.

Tuhan hadir di seluruh alam semesta ciptaan-Nya, namun Allah tidak dibatasi oleh alam semesta ciptaan-Nya. Sedangkan kebesaran-Nya yang tak terhingga menekankan transendensi Allah dalam arti bahwa ia melebihi segala ruang dan tidak terbatas oleh ruang mana pun juga, maka kemahahadiran Allah secara khusus berkaitan dengan kehadirannya di dalam alam semesta ini.(I Raja-raja 8:27; Mazmur 139:7-10; Yesaya 66:1; Yeremia 23:23-24; Kisah 7:48-49; Roma 10:6-9). Harus diingat selalu bahwa kemahahadiran Tuhan bukanlah suatu bagian yang harus ada di dalam kepribadian Allah, tetapi merupakan suatu tindakan yang bebas yang menurut kehendak Allah sendiri. Jika Allah berkehendak untuk menghancurkan alam semesta ini, maka kemahahadiran-Nya Allah akan berakhir, tetapi Allah sendiri tetap ada. Panteisme mengikat Allah kepada  alam semesta, tetapi harus diingat bahwa Allah melebihi alam semesta dan tidak tunduk kepada-Nya. Ajaran tentang kemahahadiran Allah ini  merupakan suatu ajaran yang menyegarkan sekaligus menundukkan kita. Ajaran ini merupakan suatu sumber penghiburan bagi orang percaya kepada Allah, yang senantiasa hadir, selalu siap untuk menolong kita ( Ulangan 4:7; Mazmur 46:2; Matius 28:20). Ajaran ini merupakan sumber peringatan dan pengendalian setiap percaya.[3]  Kemahahadiran Allah sebaiknya mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat menghindar dari Allah ketika kita berbuat dosa (Maz 139:11-12), namun kita dapat kembali kepada Allah dalam pertobatan dan iman (Yes 57:16).

Kemahahadiran Allah dicatat, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian baru dan sangat relevan untuk diterapkan pada masa kini.Dengan demikian, tentang keberadaan Allah yang adalah Roh sehingga tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu,.”. Dan juga keberadaan tempat Allah bertahta yang menunjukan kemahahadiran-Nya, “ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?”. Ini berarti tidak ada tempat di mana seorang dapat bersembunyi dari keberadaan Allah, ya.. Allah mengetahui keberadaan setiap orang dan semua ada di dalam kendali-Nya.

B.    Bukti-bukti Allah Mahahadir

Banyak orang percaya bahwa Allah mahahadir, artinya Ia secara harfiah ada di mana-mana dan dalam segala sesuatu. Alkitab menyaksikan bahwa Allah adalah Allah yang memiliki atribut Omnipresence. Dia adalah Allah, Allah yang keberadaan-Nya ada di seberang sana, tetapi pada saat yang sama hadir dimana-mana. Suatu kehadiran yang tak terhindarkan.[4] Di dalam Alkitab tidak banyak kebenaran lain yang dihajarkan sejelas doktrin kemahahadiran Allah. Bagian-bagian Alkitab yang mendukung kebenaran ini sedemikian jelas, sehingga kecil kemungkinan orang akan salah mengerti. Bagian-bagian Alkitab itu menyatakan bahwa Allah Hadir di dalam ciptaan-Nya, dan itu berarti bahwa di langit, atau di bumi atau di neraka sekalipun, tidak ada satu tempat pun di mana manusia bersembunyi dari kehadiran-nya. Ayat-ayat itu mengajarkan bahwa Allah itu hadir sekaligus di tempat yang jauh dan yang dekat, dan bahwa di dalam Dialah manusia itu bergerak dan hidup sesuai dengan kodratnya. Alkitab juga mengajarkan bahwa Allah itu tidak terbatas. Ini berarti bahwa pribadi Allah itu tidak dapat dibatasi; jadi ia itu mahahadir. Di dalam ciptaan-Nya yang terbatas dan memenuhinya.

 

 

1.      Allah Hadir di Kitab PL dan PB

 

Ø  Yeremia 23:23-24;

Dalam kitab Yeremia ini, kita mendapati bahwa Alkitab mengajarkan kemahahadiran Allah Bapa. “Masakan Aku ini hanya Allah yang dari dekat, demikianlah Firman Tuhan, dan bukan Allah yang dari jauh juga ? sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, Masakan Aku tidak melihat dia ? Demikianlah firman Tuhan. Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi ?  Demikian firman Tuhan”.

Mengenai Allah Anak dan Allah Roh Kudus, kita dapat katakan bahwa  kedua oknum Allah Tritunggal ini memilki atribut mahahadir (omnipresence) karena dia adalah Allah, berarti atribut yang dimiliki Allah Bapa sudah pasti juga dimliki kedua oknum lainnya. Jadi, jelas bahwa Roh Kudus selalu hadir bersama dengan setiap orang percaya di mana pun dan kapan pun.[5] Allah ada di suatu yang kita tidak dapat  mengerti  sama sekali. Hal ini bukannya pantheisme yang mengatakannya, bahwa inti segala sesuatu itulah Allah. Akan tetapi  bawah Allah berada dimana-mana tempat itu memang dinyatakan dalam kitab suci seterang-terangnya. Dan juga dapat dinyatakan bahwa Allah dimana-mana yaitu di dalam sifat Allah sebagai Roh, berarti bahwa ia tidak terikat oleh tempat, bahwa ia tak berbentuk. Tak terlihat (2 Kor 3:17). Orang yang akan beribadah kepada Allah harus menyembah Dia dalam roh dan kebenaran, yaitu : yang terpenting bukannya tempat atau bentuk penyembahan (Yoh 4:20). Jadi di mana-mana tempat mengatakan bahwa Allah tidak terbatas adanya.[6]

Ø Mazmur 139:7-12

Kitab pemazmur juga menjelaskan Allah itu Mahahadir, menyatakan tidak ada tempat yang tidak dicapai oleh Roh Allah, kesimpulannya, Allah Roh juga Mahahadir. Keberadaan Allah yang adalah roh membuat kehadiran-Nya tidak dapat dibatasi ruang dan waktu. Sekalipun berada di waktu yang sama, Allah dapat hadir di berbagai tempat yang berbeda. Kemahahadiran-Nya dinyatakan dalam Alkitab sebagai penggenapan janji penyertaan Allah kepada umat-Nya, bahwa Ia ada, memperhatikan bahkan siap menolong kita dalam berbagai tempat dan waktu di mana kita ada. Bagian ini menunjukan kehadiran Allah yang berkuasa atas alam semesta dan juga kekuasaan yang nyata di sorga, di mana para malaikat hanya manyembah Yesus yang adalah Allah, sebagai Raja yang memerintah.“Jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau” (ayat 8b), menunjuk pada dunia orang mati , “alam maut” yaitu tempat di mana orang yang telah mati berkumpul untuk menantikan hari penghakiman. Bagian ini menunjukan bahwa di sana pun Allah tetap ada dan berkuasa di atas segala sesuatu, sehingga dalam hidup atau mati di dunia yang berbeda, Allah yang maha kuasa tetap ada.

Ø  2 Tawarikh 7:2

”para imam tidak dapat memasuki rumah Tuhan itu, karena kemuliaan Tuhan memenuhi RumahTuhan”.

Ø  Ibrani 11:6

Kitab Ibrani mengatakan bahwa” barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada”.

Doktrin kemahahadiran Allah itu membuat hubungan manusia dengan alam semesta yang didiaminya itu bersifat pribadi. Kebenaran yang besar, yang merupakan pusat, memberi arti kepada segala kebenaran yang lain, serta memberikan arti yang sangat besar kepada kehidupannya yang tidak berarti itu. Allah hadir, di dekat dia, di sisinya, dan Allah ini melihat dia dan mengenal dia sedalam-dalam-Nya. Dan pada titik inilah mulai diperlukan iman, dan iman dapat mengikutsertakan seribu satu macam kebenaran lain yang hebat-hebat, semua itu akan mengingatkan kembali kepada kebenaran bahwa Allah ada, Allah itu ada disini. Dan Kristus sendiri berkata “percayalah kepada Allah, percayalah juga…( Yoh 14:1). Apapun yang merupakan “juga” yang ditambahkan kepada kepercayaan yang dasar kepada Allah ini, semua merupakan kepercayaan tambahan, dan betapa tingginya hal itu, semua senantiasa tetap berdiri teguh di atas landasan yang orisinil.

Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Allah menciptakan dunia dengan logos, Firman itu, dan firman itu sama dengan pribadi Allah yang kedua yang sudah ada di dunia bahkan sebelum menjelma menjadi manusia. Firman itu menjadikan segala sesuatu dan tetap diam di dalam ciptaan-Nya untuk menyangga dan memelihara dan pada saat yang sama menjadi terang yang menyanggupkan setiap orang untuk membedakan mana  yang baik dan mana yang jahat. Alam semesta ini bekerja sebagai suatu sistim yang teratur, bukan oleh suatu hukum kodrat, melainkan oleh suara yang menciptakan, suara Dia yang senantiasa Hadir, yang Mahahadir, yaitu logos. Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup. "  dan juga terdapat di kitab Yohanes 7:37-38 Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!  Barangsiapa percaya   kepada-Ku, seperti yang dikatakan  oleh Kitab Suci Dari dalam hatinya   akan mengalir aliran-aliran air hidup.

C.   Implikasi  bagi setiap orang percaya

. Kemahahadiran Allah tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu.. Tidak ada orang yang dapat mejauhkan diri dari hadapan Allah.Maz.139:7-12  Kitab pemazmur juga menjelaskan Allah itu Mahahadir, menyatakan tidak ada tempat yang tidak dicapai oleh Roh Allah, kesimpulannya, Allah Roh juga Mahahadir. Keberadaan Allah yang adalah roh membuat kehadiran-Nya tidak dapat dibatasi ruang dan waktu. Sekalipun berada di waktu yang sama, Allah dapat hadir di berbagai tempat yang berbeda. Kemahahadiran-Nya dinyatakan dalam Alkitab sebagai penggenapan janji penyertaan Allah kepada umat-Nya, bahwa Ia ada, memperhatikan bahkan siap menolong kita dalam berbagai tempat dan waktu di mana kita ada. Bagian ini menunjukan kehadiran Allah yang berkuasa atas alam semesta dan juga kekuasaan yang nyata di sorga. Maka bagi kita sebagai orang-orang percaya kepada Allah yang hidup haruslah kita berprinsip yang kuat dan tetap percaya dengan segenap hati. Karena kehadiran Allah menunjukkan kesetiaanya kepada kita sekalipun kita menjauh dari Allah, tetapi ia akan tetap bersama dengan kita.

 



[1] Dr. Yanjumseby Y. Manafe, Doktrin Allah & Manusia,

[2] Paul Enns, The MOODY HANDBOOK OF THEOLOGY, ( Malang, Jalan Anggrek Merpati 12,)

[3] Thiessen. C. Henry, Teologi Sistematika, ( Jawa Timur, PENERBIT GANDUM MAS, Kotak pos 46-Malang) 121

6 SUSABDA YAKUB B. , MENGENAL & BERGAUL dengan ALLAH, ( Penerbit buku dan majalah Rohani) 155

[5] Tamarol. Frans P. ,TRITUNGGAL: TUHAN YANG MAHA ESA,83-84

 

[6] SOEDARMO. R, IKHTISAR DOGMATIKA, ( Kwitang 22, Jakarta Pusat) 87-88

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konsep Keselamatan menurut John Calvin

  A.      DEFINISI KESELAMATAN Keselamatan merupakan penerapan karya Kristus terhadap kehidupan seseorang. Oleh karena itu, doktrin keselamatan ini memiliki daya tarik dan hubungan khusus karena berkaitan dengan kebutuhan seseorang yang paling penting. [1] Dari sudut pandangan Allah, keselamatan meliputi segenap karya Allah dalam membawa manusia keluar dari hukuman menuju pembenaran, dari kematian ke kehidupan kekal, dari musuh menjadi anak. [2] Keselamatan menjadi salah satu dasar bagi kehidupan orang percaya dimana berkaitan dengan   hubungan Allah dengan manusia. keselamatan adalah jalan pendamai antara Allah dengan manusia melalui karya Yesus yang mati dikayu salib sebagai korban yang sempurna.   B.      PANDANGAN CALVIN 1.       PREDESTINASI Calvin menjabarkan predistinasi sebagai berikut: disebut ketetapan Allah yang kekal, yang melaluinya Ia telah menetapkan di dalam diri-Nya apa yang akan t...

Etika Seorang hamba Tuhan

  A.    Definisi Etika Istilah etika berasal dari bahasa Yunani, yang umumnya menunjuk pada kata ethos, artinya: kebiasaan, adat atau kelakuan. Malcolm Brownlee menuliskan rumusan definisi etika, sbb: Etika menyangkut pemikiran yang sistematis tentang kelakuan, motivasi, dan keadaan batin yang mendasarinya. Rumusan ini sangatlah tepat mengenai definisi etika yang di kemukakan oleh Malcolm Brownlee, karena mengkaitkan dengan sikap   batin atau sikap hati yang mendasari perbuatan. Yang mana sesuai dengan perkataan Tuhan Yesus, ” Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Mat. 5:28). Mereka belum melakukannya tapi hanya dihatinya saja, sudah dianggap berdosa. [1] Dengan demikian seorang hamba Tuhan haruslah memberikan teladan bagi sesama dan menjadi cermin dalam segala aspek seperti ada tertulis: Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu,   Jangan seorangpun menganggap...