. Definisi Humanisme
Humanisme arti kata yang sebenarnya : kemanusiaan” ,tetapi arti yang lebih luas ialah:
peradaban yang diperoleh dari kebudayaan kuno. peradaban bangsa-bangsa Romawi yang
mendahului peradaban Kristen, sekarang
dipelajari pula ”pulanglah kepada smuber-sumber “ itulah
semboyan humanisme. Pandangan ini menekankan bahwa manusia
telah dewasa. Manusia sudah dapat berdiri sendiri dan tidak memerlukan perwalian dari Tuhan Allah atau
Gereja. Oleh
karena itu Aliran ini sangat menekankan kebebasan manusia
dan karena itu kebebasan beragama
ditekankan.1 Istilah “humanisme” adalah temuan dari abad ke-19, dalam Bahasa Jerman kata
Humanismus pada tahun 1808, dalam Bahasa Inggris, kata “Humanism”.2 Humanisme lebih
banyak berkembang di Belanda (Erasmus dari Rotterdam, 1469-1536), di Inggris (John Colet,
1466-1519), di Jerman Johannes Reuchlin, 1455-1522). Ciri khas Humanisme
ialah bahwa manusia ingin bebas dari dari apa yang ia anggap ikatan dan keterikatan, termasuk ikatan-ikatan gerejawi dan belenggu-belenggu
ketidaktahuan dan
kebodohan.3
Maka humanisme lebih
dikenal sebagai paham yang berpusatkan manusia
dan tidak menerima
hakikat Tuhan adikodrati diatas manusia yang makin meluas. Latar belakang
munculnya humanisme disebabkan
oleh tekanan-tekanan
atas kebebasan
manusia yang dilakukan oleh para penguasa ketika gereja/golongan, dimasyarakat sering diperlakukan secara
tidak
manusiawi.4
Dalam hal ini,
Humanisme telah memutuskan untuk memandang
manusia sebagai ukuran
atau segala sesuatu. Yang
artinya adalah menolak Allah yang mahakuasa. Meskipun
demikian pada permulaan sebagian besar Humanisme beribadah dan saleh, walaupun orang-orang yang bukan percaya sungguh-sungguh. Mereka berbicara tentang nama Allah namun tidak bersumber
kepada
Firman Tuhan.
Mereka
memandang
dirinya Kristen,
tetapi tunduk dan taat
kepada
1 Drs. F.D Wellem,M.Th. KAMUS SEJARAH GEREJA. ( PT Gunung Mulia, Jakarta 1994)
hal 90
2 Alister E. McGrath, SEJARAH PEMIKIRAN
REFORMASI (PT BPK GUNUNG MULIA ,JAKARTA)hal 53
3 Dr. Dietrich Kuhl, SEJARA GEREJA,JILID II (PENERBIT YPPII. Jl. Indragridi No.5 PO Box 4 Batu malang-
JATIM)106-107
4 Ir. Herlianto, HUMANIISME dan Gerakan Zaman Baru (YAYASAN KALAM HIDUP Jl. Naripan 67- Bandung)
Firman Allah. rasio mereka selalu didasarkan oleh rasio manusia dan makin
jauh dari firman
Allah.
Bagi Humanisme, Firman Allah tidak lagi sebagai patokan untuk mengukur segala sesuatu, melainkan diukur
berdasarkan segala patokan kebudayaan. Dengan demikian budaya, yang adalah hasil
manusia, yaitu yang diciptakan, diletakkan di
tempat wahyu Allah.
kepercayaan kepada Allah, pencipta dan juruselamat,
“turun nilainya”
dan diganti dengan
sebagian dengan budaya dan kehidupan roh manusia,
dan pada akhirnya Firman
Allah
sendiri, yakni
Alkitab
hanya dilihat
sebagai hasil kehidupan roh manusia.
Dapat dijelaskan, bahwa bagi Humanisme hanya ada satu kewajiban yang
di haruskan untuk manusia, yaitu Kebenaran. Kebenaran
ini menajdi pusat pandangan
bagi
seluruh dunia. Maka setiap rasio dan kreativitas
jasa ciptaan manusia disebut kebenaran oleh humanisme.
Dengan demikian satu-satunya yang paling
dihargai oleh manusia adalah kebenaran yang
justru menjadi relative.
Inilah yang menajdi dasar humanisme menghargai manusia, memberi dan menerima kehormatan yang pasti dapat dimanipulasi.5
B. Tokoh-tokoh Humanisme
1. Desiderius Erasmus
Tokoh humanis yang paling termasyhur, ialah seorang Belanda, Desiderius Erasmus
namanya, yang lahir dekat Gouda pada
tahun
1469.
Oleh karena ia sangat dihormati
dan disokong
oleh raja-raja dan pembesar-pembesar gereja, Erasmus dapat menyerahkan segenap karunia dan waktunya
untuk
pelajaran. Tempat kediamannya ialah Rotterdam, tetapi lama
juga ia tinggal dan bekerja di Italia, Inggris belgia dan swiss .pada tahun 1536 ia meninggal di kota Basel.
Humanisme
Erasmus adalah
campuran pandangan-pandangan
Yunani-Romawi dengan ajaran Injil. Ia boleh disebut : bapa aliran kekristenan yang serba bebas(liberal)”.
Artinya,
pada pendapat Erasmus, Injil adalah suatu ajaran yang indah tentang kebajikan manusia, ajaran
5 PROF. DR. ETA LINNEMANN, TEOLOGI KO NTEMPORER ILMU ATAU PRADUGA (PENERBIT DEPARTEMEN
LITERATUR YPPI 1991) hal 21-25
mana teristimewa
terdapat khotbah Yesus di bukit. Yesus adalah adalah
kegenapan yang sesempurna-sempurnanya dari segala perkara yang
baik dan benar, yang sudah terdapat juga
dalam agama-agama kafir. Sama seperti orang apologet dulu kala, ia berpendapat bahwa ajaran filsafat
kafir tentang logos, hanya disempurnakan
saja oleh Injil dan theologia
Kristen.
Dengan demikian segala pandangan, takhyul dan adat Gereja dari jaman itu sangat
dikritik dan diolok-olok oleh Erasmus, tetapi ia tak sampai turut dalam pembaruan gereja, sebab ia membenci segala revolusi dan tindakan radikal. Pada hematnya, sebaliknya Gereja harus makin
dipengaruhi oleh semangat humanis, supaya lama-kelamaan gereja
dapat berbalik pada
kesuciannya yang semula. 6 yang artinya bahwa tokoh Erasmus ini ingin gereja mengubahkan
arah
pandangannya dan
lama kelamaan meninggalkan kepercayaannya dan
kekudusannya. Namun sebenarnya tokoh ini sangat terbuka dan menerima kebajikan manusia
seperti dalam cerita Injil dan menjadikan Yesus sebagai tokoh manusia yang ideal. Ia bahkan menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru dari Bahasa
Yunani, tetapi kesedihannya melihat para ulah pemuka
agama yang
saling bertikai di Eropa pada masanya, menyebabkan ia bergeser lebih jauh lagi hingga kemudian menolak hak-hak ilahi dalam Injil yang
disebutnya sebagai pandangan
Takhayul adat gereja, Inilah yang menjadi dasar/alasan Erasmus.
Erasmus memahami karyanya sebagai pembimbing
untuk orang awam ke dalam kitab
suci; dia memberikan
suatu penjelasan
yang sederhana tetapi ilmiah
tentang “filsafat
dari kristus”. Filsafat yang benar-benar suatu bentuk moralitas praktis, ketimbang suatu filsafat akademis; PB memusatkan perhatian pada pengetahuan akan yang baik dan menjauhi yang jahat,
dimana Kristus adalah contoh teladan bagi orang-orang
Kristen untuk menaatinya. Dan di
teladani. Namun Erasmus tidak memahami Iman Kristen sebagai sekadar ketaatan yang bersifat luar.
Dengan
demikian, Humanisme adalah
pandangan yang
menyatakan bahwa manusia dapat memahami
dunia serta keseluruhan
realita dengan menggunakan pengalaman
dan nilai-nilai kemanusiaan bersama. Kita bisa hidup baik tanpa agama sekalipun. Para Humanis berusaha menciptakan yang terbaik bagi kehidupan
dengan menciptakan makna dan
tujuan
bagi
diri
sendiri.
6 H. Berkhof * I.H.Enklaar, sejarah gereja ( Jakarta, BPK Gunung Mulia 2019) 99-101
2. Kristeller
Tokoh memiliki pandangan tentang humanisme, dia
menggambarkan
humanisme sebagai
gerakan
kebudayaan
dan
pendidikan, terutama yang berkenaan
dengan peningkatan atau
promosi akan kefasihan dalam
berbagai bentuknya,
khususnya dalam bidang tulis-menulis
atau lisan. Yang artinya menjadi seorang humanisme
kefasihan
merupakan hal yang
sangat penting dan
mendasar.7 Kristeller
lebih
mendominakan kefasihan berbicara merupakan hal yang sangat penting dalam berbagai
bidang-bidang study.
3. Abraham Maslow
(1908 - 1970)
Abraham Maslow
dilahirkan di Brooklyn,
New
York, pada tahun 1908 dan meninggal pada
tahun 1970 dalam usia 62 tahun. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi dan merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara. Masa muda Maslow berjalan dengan tidak menyenangkan
karena
hubungannya
yang buruk dengan
kedua
orangtuanya.
Semasa
kanak-kanak
dan
remaja Maslow merasa bahwa dirinya amat menderita dengan perlakuan orang tuanya, terutama
ibunya. Keluarga Maslow amat berharap bahwa ia
dapat meraih sukses
melalui dunia pendidikan. Untuk menyenangkan kemauan ayahnya, Maslow sempat belajar di bidang Hukum
tetapi kemudian tidak dilanjutkannya. Ia akhirnya mengambil bidang
studi
psikologi di University of Wisconsin, dimana ia memperoleh gelar Bachelor tahun 1930,
Master tahun
1931, dan Ph.D
pada tahun 1934.
Abraham
Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanisme. Abraham memiliki pandangan tentang humanisme bahwa ia percaya manusia mampu memahami dirinya
sendiri. Teorinya
yang terkenal adalah “Hirarki kebutuhan” manusia sanggup
mencukupkan
kebutuhan hidupnya dari hal hal yang terkecil –
terbesar. Misalnya : 1) Kebutuhan
jasmaniah seperti makan, minum, tidur dan sex menuntut sekali untuk dipuaskan, Kebutuhan
harga diri, yaitu
kebutuhan untuk dihargai, dihormati, dan dipercaya oleh orang lain, dll.8
7Alister E. McGrath, SEJARAH PEMIKIRAN REFORMASI (PT BPK GUNUNG MULIA ,JAKARTA)
8 http://jintut-nocturna.blogspot.com/2011/04/tokoh-tokoh-humanisme.html
Komentar
Posting Komentar